Selasa, 22 Oktober 2013

Surat Cinta Untuk Senior ^_^"

Untuk setiap pasang mata yang membaca ini, terserah kalian mau menganggap ini serius atau tidak. Aku memang menulis ini karena suatu keharusan. Gara-gara disuruh sama panitia inagurasi di kampus -_-
Ini satu sisi.
Di sisi lain siapa yang tahu? Karena pada hakekatnya, hanya aku dan Tuhan yang benar-benar tahu :’)

Dear you..

Aku percaya tidak ada suatu kebetulan apapun di muka bumi ini. Termasuk bertemu denganmu.

Untuk masuk ke universitas ini, untuk masuk ke fakultas ini, untuk masuk ke jurusan ini, apakah sebuah kebetulan? Hebat sekali “kebetulan” bisa terjadi serumit ini. Bukankah “kebetulan” terjadi dengan begitu sederhana? Kalau begitu, bertemu denganmu pun tidak akan pernah kusebut “kebetulan”. Bukan karena bertemu denganmu membawaku pada rasa rumit, tapi karena bertemu denganmu seperti sedang menunggu Tuhan selama 17 tahun merangkai waktu yang tepat, menentukan tempat yang pas, dan menjalin rencana yang tidak akan bisa kujangkau dengan alam pikirku yang terbatas. Tidak sederhana bukan? Sama seperti apa yang sedang kurasa. Kau tahu? Ini luar biasa.

Aku ingat sekali, saat kita pertama kali bertemu, kau sedang duduk dengan kepala tertunduk, seakan tenggelam dalam duniamu sendiri dengan buku kecil di tanganmu. Siapa sangka ketika pandangan kita beradu, yang pertama kali kusadari adalah aku sangat menyukai matamu. Matamu seperti menancapkan suatu rasa baru tepat di hatiku. Sebenarnya, benang apa yang menjadi penghubung bagi matamu untuk menghantarkan perasaan baru itu padaku? Atau memang tidak ada benang penghubung? Hebat sekali rasa itu bisa merangkak sendiri dari matamu menuju hatiku.
Ah, entahlah. Aku menyimpan pertanyaan itu dalam diam, sampai sekarang.

Aku juga ingat sekali, beberapa saat kemudian kau mungkin mulai menyadari bahwa ini janggal. Kenapa mata kita beradu aku terlalu lama? Seolah kau takut keindahan matamu akan berpindah kepadaku. Haha.
Aku tertunduk malu. Aku menatap punggung kakiku, berharap tertulis sesuatu di sana untuk kukatakan.
Ah, aku menyerah. Terlalu bodoh untuk berkata-kata pada momen seperti ini. Lalu aku hanya membiarkan mulutku berbicara sendiri, dan berharap tidak akan mengeluarkan kata-kata memalukan.

Lalu benar, aku bertanya. Entah pertanyaan macam apa. Aku tidak benar-benar mengingatnya.
Kau tahu, bukan? Aku sering berpikir dengan hatiku. Sama, untuk saat ini aku sedang berpikir lagi dengan hatiku, bukan dengan akal pikirku.
 ....
Lalu kemudian kau menjawab pertanyaanku. Walau sebenarnya aku tidak terlalu jelas mendengar apa yang kau katakan. Karena saat ini telingaku dipenuhi gemerisik loncatan hati. Tidak karuan, terlalu girang, sangat berlebihan. Rasanya hal ini mengingatkanku pada kata-kata: "Tapi, bukankah kalau tidak berlebihan maka itu bukan cinta?" :’)

Ah, pertemuan pertama kita kemudian berakhir begitu saja. Seorang lain memanggilmu, lalu kau segera pergi, bahkan tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun padaku. Huh, dia seperti tokoh ketiga.
Tidak apa-apa. Aku tahu karena kita akan bertemu kembali suatu saat nanti, maka kau tidak perlu mengucapkan kata selamat tinggal saat ini. Bukankah begitu?

Lalu apa yang bisa kulakukan?
Aku hanya bisa melangkah pergi dengan harapan bisa bertemu denganmu lagi suatu saat nanti.
Hei si pemilik mata indah, aku ingin mendatangi koridor ini setiap hari, meyakinkan hatiku apa kau ada di sana, meyakinkan diriku sebesar apa aku merindukanmu, meyakinkan diriku apa aku salah untuk terus menunggumu hingga kau muncul.

Harapanku, ketika kau melewati koridor ini, berhentilahlah sejenak. Sebentar saja.. Manatau dalam waktu singkat itu aku bisa saja datang ke situ juga, lalu bertemu denganmu lagi.

Jadi, sampai bertemu lagi di waktu yang bukan “kebetulan”. Pastikan untuk menjaga matamu baik-baik. Karena meskipun aku tidak tahu namamu, hanya dengan melihat matamu saja, aku akan terbang kembali menuju memori awal ketika aku bertemu denganmu.

Aku menunggumu dalam rindu.
Ketika kita bertemu lagi, akan kupastikan aku mengetahui namamu, hanya dengan membacanya melalui mata indahmu! :)

8 komentar:

  1. Balasan
    1. Hahaha bisa ya bisa tidak :D

      Hapus
    2. hahaha, asal bukan keterpaksaan juga... :D

      jln" ke blogku yg lgi tidur pulas jga yah :D
      http://anugerahharefaarcht.blogspot.com/

      Hapus
  2. Hmmmm...
    cocok jdi penulis scenario hollywood

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, belum sampe ke sana lah. Hehe ^_^ makasih ya :)

      Hapus
  3. yaaa sama2...
    Tapi keren lo. Jempol buat Cindy.

    BalasHapus