Jadi, seperti inilah kisah itu berakhir.
Silahkan kalian bertindak sebagai apa ketika membaca kisah lusuh ini.
Tapi untuk sekarang, tolong, bertindaklah sebagai seseorang yang membaca saja. Jangan komentari betapa menyedihkannya aku, jangan katakan padaku seberapa keras kalian menertawaiku, jangan ceritakan padaku perubahan raut wajah kalian ketika membaca kata demi kata dalam kisah ini.
Sebenarnya kisah lusuh ini begitu indah-- Setidaknya untukku.
Aku tidak pernah lupa bagaimana pada awalnya aku tersandung
ketika berjalan hanya karena memperhatikannya, aku tidak pernah lupa bagaimana aku
menyembunyikan wajahku yang memerah karena malu bertemu dengannya, aku tidak
pernah lupa ketika aku tidak bisa melakukan apapun di depannya. Seperti orang
bodoh. Seperti orang idiot. Mungkin karena aku mencintainya—ya, begitu saja.
Aku ingat dengan jelas bagaimana aku mengkhawatirkannya,
bagaimana aku mengingatnya dalam setiap doaku, betapa aku percaya bahwa dia satu-satunya.
Betapa sebenarnya banyak orang yang memaksaku berpisah dengannya, tapi entah
mengapa, aku ingin bertahan. Aku sadar betul bahwa meninggalkannya tidak mudah.
Aku mungkin tidak usah mengulang memberi tahu kalian betapa
aku sangat mempercayainya. Aku mungkin
juga tidak usah mengulang memberitahu kalian bagaimana dia menyakitiku begitu
mudah. Betapa ia dengan santainya meruntuhkan langit-langit hatiku hanya dengan
menggunakan sentilan jemarinya, meledakkan air mataku dengan kebohongannya, dan
memberiku alat penghisap tenaga, sehingga tubuhku melemas, seperti bunga layu.
Aku tahu kau menyesal, tapi apa itu bisa merubah semuanya?
Apa bunga layu itu bisa kau buat tegak dan hidup kembali? Kalau bisa,
lakukanlah. Maka aku akan memaafkanmu. Maka aku akan melupakan bahwa kau pernah
menyakitiku. Aku bisa saja menganggap bahwa kau melukaiku dengan tidak sengaja,
seandainya kau bisa menegakkan kembali bunga layu itu!
Jadi, apa kau bisa?
Percuma menanyakannya. Kau tidak mungkin bisa.
Percuma menanyakannya. Kau tidak mungkin bisa.
Kau tahu, sayang? Kekuatan dari sebuah hubungan adalah
kepercayaan. Aku selalu yakin, kepercayaan bersahabat baik dengan kesetiaan. Kau
tidak bisa memisahkan kedua hal ini, sekuat apapun dirimu. Lalu ketika kau merasa hebat dan berusaha memisahkannya
dengan kekuatanmu yang tak seberapa, maka semuanya akan berakhir seperti ini. Seperti
kita.
Tidak ada yang manis untuk sebuah perpisahan, sayang. Tapi aku
ingin berusaha tersenyum. Mungkin senyum tanda terima kasih. Terima kasih
karena kau pernah hadir. Terima kasih juga karena kau pernah menyakitiku, sebab
aku belajar untuk menghindari luka yang sama. Aku tidak ingin terjatuh lagi.
Jadi, semua ini harus berakhir. Ini bukan akhir yang
menyedihkan. Toh aku masih bisa tersenyum.
Bukan karenamu. Tapi karena semua yang telah kita lewati.
Ini berakhir, bukan karena aku membencimu. Tapi karena aku
membenci semua kepalsuan dan maya di antara kita.
Ini juga berakhir, bukan karena aku tidak menyayangimu. Tapi
karena aku menghormati setiap kenangan dan mimpi yang kita ukir. Tidak ingin
menodai memori indah lagi. Sudah cukup sampai di sini, bukan? :)
Lalu bagaimana aku harus menjalani hari-hariku tanpamu?
Setidaknya aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku
bukan wanita lemah. Aku bisa tanpamu.
Hei, kau dengar ini? Biar kuulangi.
“aku B-I-S-A tanpamu.”
“aku B-I-S-A tanpamu.”
Aku akan mengulang kalimat ini, 99 kali dalam sehari, sampai aku
merasa lelah, selelah rasanya berusaha melepaskanmu.
Ah, bukankah bodoh mengatakan semua ini?
Haha.. Lucu sekali, ketika akhirnya aku menyadari bahwa aku menjadi
orang bodoh dua kali dalam hidup. Pertama, ketika mencintaimu. Kedua, ketika
dilukai olehmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar