Hei, sudah lama tidak melihatmu, sudah
lama tidak mendengar kabarmu.
Sebentar.. Aku bahkan hampir lupa
menanyakan kabarmu. Apa mungkin aku sudah lupa bagaimana cara me-na-nya-kan
ka-bar?
Aku berharap ini pertanda baik. Pertanda baik
bahwa aku sudah benar-benar bisa melepasmu, benar-benar bisa melupakanmu,
benar-benar bisa menghapusmu dalam pikiranku.
Kalau ini memang benar, maka aku berharap
kau membaca ini. Aku ingin memberimu kabar baik, bahwa aku sekarang sudah bisa
beranjak dari kisah cinta kita dulu. Kisah cinta? Oke aku bahkan sedikit ragu
untuk memberikan title “cinta” dalam kisah kita. Aku hanya ragu, bukan
menyangkal. Karena pada hakikatnya kau sudah menyangkalnya terlebih dahulu. Jadi
setidaknya aku tidak mau menjadi sepertimu.
Tenang saja, aku sudah melupakan rasa
sakitku. Aku juga sudah melupakan kesalahan-kesalahan besarmu (yang kau anggap
kecil) padaku. Tidak ada luka lagi, semuanya sudah pulih. Jadi jangan
repot-repot meracik obat untuk alasan menyembuhkanku, yang mungkin akan kau
berikan padaku beberapa waktu ke depan jika kau sedang kesepian. Karena sampai
kapanpun, aku akan tetap baik-baik saja tanpamu.
Kau mau tahu keadaanku, tidak?
Aku sekarang sedang berjalan, berjalan
menuju tempat terindah yang Tuhan pilih untukku, dan meninggalkan tanah yang
salah, yang pernah kita pijaki bersama.
Aku juga sedang memikirkan asa dan mimpi baruku, dan melupakan pemikiran sia-sia tentangmu.
Aku juga ingin menulis cerita-cerita baru
dalam hidupku, tanpa setetespun tinta pulpenku mencatatkan lagi hal-hal tentangmu. Bahkan
aku sangat yakin, aku tidak akan menggunakan pen correction untuk menghapus
cerita baruku lalu menuliskan namamu lagi.
Tidak akan lagi :’)
Tidak akan lagi :’)
Apa menurutmu aku mudah mengatakan ini? Apa
menurutmu ini adalah proses yang terjadi secepat mengedipkan mata? Tidak. Ada proses
panjang yang sudah kulalui sebelum aku bisa mengungkapkan hal ini. Proses yang
bagiku seperti menunggu sehelai rambut untuk tumbuh.
Tidak apa-apa. Proses adalah proses. Kebodohan
ini sudah berhenti sampai di sini. Aku sudah memutuskan untuk menjadi lebih
pintar lain kali.
By the way, aku lupa mengucapkan terima
kasih.
Terima kasih sudah membuat aku belajar
untuk tidak lagi mau berkisah dengan orang-orang sepertimu.
Terima kasih juga pernah hadir dalam hidupku. Biarkan saja ini cinta pura-pura, toh pada kenyataannya cinta adalah cinta. Aku pernah mencintaimu, dan meskipun itu adalah suatu kesalahan, tapi aku tidak ingin menyangkal bahwa itu pernah terjadi dalam hidupku.
Terima kasih juga pernah hadir dalam hidupku. Biarkan saja ini cinta pura-pura, toh pada kenyataannya cinta adalah cinta. Aku pernah mencintaimu, dan meskipun itu adalah suatu kesalahan, tapi aku tidak ingin menyangkal bahwa itu pernah terjadi dalam hidupku.
Mari kita berjalan di arah yang berbeda. Temukan
tempatmu, aku juga akan menemukan tempatku. Cocokkan jadwal terlebih dahulu,
pastikan kita tidak akan berpapasan lagi. Aku takut akan menabrakmu dan tidak
bisa membantu mengangkatmu jika kau terjatuh. Karena aku juga sedang terburu-buru. Buru-buru
untuk menjauhimu, dan buru-buru untuk pergi dan tidak ingin menatapmu lagi.
Hei, aku harap kau akan baik-baik saja. Aku
berdoa kau akan temukan yang terbaik dalam hidupmu.
Jangan lakukan kesalahan yang sama lagi
ya. Ayolah, jangan bertindak bodoh lagi. Apa kau tidak berniat sama sekali untuk menciptakan
kisah cinta yang berakhir bahagia? Well, silahkan memilih. Pilihan ada di
tanganmu.
Hmm.. Sampai bertemu di akhir kisah kita
masing-masing. Menyedihkan ataupun bahagia, akhir akan tetap menjadi akhir. Dan akhir itu adalah konsekuensi dari pilihan yang kita ambil.
Jadi, untuk terakhir kalinya aku ingin
mengatakan ini padamu:
Selamat berpisah. Mari berjanji untuk
sama-sama tidak melihat ke belakang lagi.