Jumat, 01 November 2013

Ada Apa dengan Hujan?

Kali ini aku ingin menceritakan padamu tentang hujan.
Aku ingin membawamu pada cerita di balik setiap rintik-rintiknya, yang sering kali membasahimu, mengguyurmu dan membuatmu menggerutu kesal. Aku ingin menceritakan kepadamu, betapa aku menyukai hal yang kau benci itu. Aku ingin menceritakan betapa bagiku hujan adalah ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan.

Jangan terlalu heran denganku. Jangan cepat beranggapan bahwa aku aneh karena menyukai hujan. Karena pada dasarnya, aku juga tidak mengerti bagaimana bisa aku menyukainya.
Itu terjadi begitu saja.

Saat hujan datang, aku hanya menyadari bahwa ada sesuatu yang kurindukan, ada sesuatu yang harus aku ingat. Tiap tetes air yang terpantul di jendelaku seakan memaksaku mengingat memori-memori yang pernah kulalui dahulu. Apapun itu, aku tidak tahu. Pikiranku seakan pasrah, merelakan semua memori itu terputar kembali dalam otakku- eh hatiku? Entahlah.

Tidak ada memori yang menyakitkan, karena aku yakin hujan telah menyeleksi terlebih dahulu setiap cerita yang pantas untuk aku ingat kembali. Hujan telah menghapus hal-hal menyakitkan. Itulah mengapa aku selalu menyukai hujan. Hujan meyakinkanku bahwa tiap butir-butir air yang jatuh ke bahuku tidak akan menyakitiku.

Hujan selalu membawaku pada kenyataan bahwa setiap hal yang kulalui dalam hidup telah terekam oleh alam, tidak akan pernah menghilang meski aku sudah mencoba melupakan. Aku akan selalu diingatkan tentang hal ini, tiap kali hujan turun.
Tiap kali hujan turun.. aku selalu ingat semuanya. Aku ingat kamu, aku ingat dia, aku ingat kita, aku ingat mereka.
Aku tidak marah ketika aku diingatkan tentang hal ini. Karena hanya akan ada selalu hal yang membahagiakan yang muncul di dalam pikiranku. Bukan berarti aku menjadi bodoh dan buta terhadap semuanya. Aku hanya ingin merasa bahagia, melupakan hal-hal yang tidak penting dan menyedihkan, setidaknya ketika hujan turun. Setidaknya, untuk beberapa waktu saja… hanya ketika hujan turun.

Aku sadar betul bahwa saat ini aku sedang tersenyum di balik payung kecilku. Aku mungkin menyadari betapa bodohnya aku memberitahumu tentang rahasia anehku ini. Satu hal yang harus kau ingat, untuk siapapun di luar sana, jangan terlalu bergede rasa karena menyadari kenyataan bahwa hujan mampu merekam semua cerita.

"Hei, kau sekarang hanyalah serpihan kisah dari sekian banyak kisah yang muncul ketika hujan turun. Aku juga tidak bodoh untuk terus memilihmu sebagai kisah yang kuingat ketika hujan turunMasih ada cerita lain yang bisa menjadi pilihan selain dirimu. Dan sepertinya sedikit waktu lagi, kau akan tereliminasi. Memori tentangmu akan dihapus oleh hujan. Mungkin karena kisahmu begitu sederhana untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama?" Entahlah. Itu urusan hujan. Aku hanya ingin menunggu dan melihat, bagaimana hujan akan bertindak.

Ah, hujan sudah berhenti. Sepertinya pemikiran-pemikiran ini juga sudah saatnya untuk dihentikan sampai di sini dulu.
Satu hal yang harus kau ingat.
Akan selalu ada waktu bagi hujan untuk turun, dan akan selalu ada pula waktu untuk berhenti.
Akan selalu ada waktu untuk memulai kembali, dan akan selalu ada pula waktu untuk mengakhiri lagi.
Dunia akan selalu seperti itu, kawan.  Tidak berujung, selalu berputar-putar dan akan selalu kembali pada satu titik. Tapi satu hal yang sudah kupastikan:
TITIK itu bukan lagi dirimu :)