Untuk
setiap pasang mata yang membaca ini, terserah kalian mau menganggap ini serius atau tidak. Aku memang menulis ini karena suatu keharusan. Gara-gara disuruh sama panitia inagurasi di kampus -_-
Ini satu sisi.
Di sisi lain siapa yang tahu? Karena pada hakekatnya, hanya aku dan Tuhan
yang benar-benar tahu :’)
Dear
you..
Aku
percaya tidak ada suatu kebetulan apapun di muka bumi ini. Termasuk bertemu
denganmu.
Untuk
masuk ke universitas ini, untuk masuk ke fakultas ini, untuk masuk ke jurusan
ini, apakah sebuah kebetulan? Hebat sekali “kebetulan” bisa terjadi serumit
ini. Bukankah “kebetulan” terjadi dengan begitu sederhana? Kalau begitu,
bertemu denganmu pun tidak akan pernah kusebut “kebetulan”. Bukan karena
bertemu denganmu membawaku pada rasa rumit, tapi karena bertemu denganmu
seperti sedang menunggu Tuhan selama 17 tahun merangkai waktu yang tepat,
menentukan tempat yang pas, dan menjalin rencana yang tidak akan bisa kujangkau
dengan alam pikirku yang terbatas. Tidak sederhana bukan? Sama seperti apa yang
sedang kurasa. Kau tahu? Ini luar biasa.
Aku ingat sekali, saat kita pertama kali
bertemu, kau sedang duduk dengan kepala tertunduk, seakan tenggelam dalam
duniamu sendiri dengan buku kecil di tanganmu. Siapa sangka ketika pandangan
kita beradu, yang pertama kali kusadari adalah aku sangat menyukai matamu.
Matamu seperti menancapkan suatu rasa baru tepat di hatiku. Sebenarnya, benang apa yang
menjadi penghubung bagi matamu untuk menghantarkan perasaan baru itu padaku?
Atau memang tidak ada benang penghubung? Hebat sekali rasa itu bisa merangkak
sendiri dari matamu menuju hatiku.
Ah, entahlah. Aku menyimpan pertanyaan
itu dalam diam, sampai sekarang.
Aku juga ingat sekali, beberapa saat
kemudian kau mungkin mulai menyadari bahwa ini janggal. Kenapa mata kita beradu
aku terlalu lama? Seolah kau takut keindahan matamu akan berpindah kepadaku.
Haha.
Aku tertunduk malu. Aku menatap punggung
kakiku, berharap tertulis sesuatu di sana untuk kukatakan.
Ah, aku menyerah. Terlalu bodoh untuk
berkata-kata pada momen seperti ini. Lalu aku hanya membiarkan mulutku
berbicara sendiri, dan berharap tidak akan mengeluarkan kata-kata memalukan.
Lalu benar, aku bertanya. Entah
pertanyaan macam apa. Aku tidak benar-benar mengingatnya.
Kau tahu, bukan? Aku sering berpikir dengan hatiku.
Sama, untuk saat ini aku sedang berpikir lagi dengan hatiku, bukan dengan akal
pikirku.
Lalu kemudian kau menjawab pertanyaanku.
Walau sebenarnya aku tidak terlalu jelas mendengar apa yang kau katakan. Karena
saat ini telingaku dipenuhi gemerisik loncatan hati. Tidak karuan, terlalu
girang, sangat berlebihan. Rasanya hal ini mengingatkanku pada kata-kata: "Tapi, bukankah kalau tidak berlebihan maka itu bukan
cinta?" :’)
Ah, pertemuan pertama kita kemudian
berakhir begitu saja. Seorang lain memanggilmu, lalu kau segera pergi, bahkan
tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun padaku. Huh, dia seperti tokoh ketiga.
Tidak apa-apa. Aku tahu karena kita akan
bertemu kembali suatu saat nanti, maka kau tidak perlu mengucapkan kata selamat
tinggal saat ini. Bukankah begitu?
Lalu apa yang bisa kulakukan?
Aku hanya bisa melangkah pergi dengan
harapan bisa bertemu denganmu lagi suatu saat nanti.
Hei si pemilik mata indah, aku ingin
mendatangi koridor ini setiap hari, meyakinkan hatiku apa kau ada di sana,
meyakinkan diriku sebesar apa aku merindukanmu, meyakinkan diriku apa aku salah
untuk terus menunggumu hingga kau muncul.
Harapanku, ketika kau melewati koridor ini,
berhentilahlah sejenak. Sebentar saja.. Manatau dalam waktu singkat itu aku
bisa saja datang ke situ juga, lalu bertemu denganmu lagi.
Jadi, sampai bertemu lagi di waktu yang
bukan “kebetulan”. Pastikan untuk menjaga matamu baik-baik. Karena meskipun aku
tidak tahu namamu, hanya dengan melihat matamu saja, aku akan terbang kembali
menuju memori awal ketika aku bertemu denganmu.
Aku menunggumu dalam rindu.
Ketika kita bertemu lagi, akan kupastikan
aku mengetahui namamu, hanya dengan membacanya melalui mata indahmu! :)
mantap, curahan hati kayaknya... :D
BalasHapusHahaha bisa ya bisa tidak :D
Hapushahaha, asal bukan keterpaksaan juga... :D
Hapusjln" ke blogku yg lgi tidur pulas jga yah :D
http://anugerahharefaarcht.blogspot.com/
Hmmmm...
BalasHapuscocok jdi penulis scenario hollywood
Ah, belum sampe ke sana lah. Hehe ^_^ makasih ya :)
Hapusyaaa sama2...
BalasHapusTapi keren lo. Jempol buat Cindy.
waduh, sekali lg makasih ^_^
HapusYoai....
BalasHapusheheheh