Senin, 14 Oktober 2013

Seandainya Saja Semudah Itu :)

Aku tidak tahu apakah dengan menjelaskan, semuanya akan membaik.
Tapi, semuanya akan mulai kucoba tuliskan di sini..

Setidaknya, aku tidak hanya membiarkan hatiku saja yang tahu. Aku ingin bercerita, kepada siapapun, yang bahkan ketika mereka tidak mendengarkanku, aku akan merasa lebih baik karena sudah meluapkan semuanya. Aku ingin bercerita, bahkan kepada dinding yang membelakangiku. Aku ingin mengungkapkan sepatah kata saja..

Aku tidak tahu bagaimana orang akan melihatku. Apa mereka akan melihatku begitu menyedihkan, atau mereka memandangiku dengan tatapan tidak mengerti, atau yang lebih menyakitkan lagi--- mereka tidak peduli.

Apapun itu, dengarkan saja ini..


Aku percaya untuk setiap hal yang terjadi adalah sebuah proses. Kau butuh proses untuk mengerti, kau butuh proses untuk menerima, kau butuh proses untuk berjalan, hingga akhirnya kau percaya untuk berlari menemukan sesuatu yang ingin kau kejar.

Kau tahu?
Hidup dengan percaya pada seseorang begitu indah. Kau percaya bahwa ketika kau bersedih, dia akan  menjadi bahu terkuat tempatmu bersandar. Kau percaya bahwa dia bisa menjadi sahabat, kekasih, keluarga pada saat yang bersamaan untukmu. Kau berjalan, tapi tidak pernah melihat ke belakang, karena kau percaya dia ada di belakangmu, menguatkanmu, melindungimu- jadi kau tak perlu takut untuk melangkah. Kau tidak ragu untuk tertawa, karena kau tidak tertawa sendirian. Setidaknya tidak ada yang mengatakan kau gila. Haha :’)
Lalu kau juga tidak akan takut untuk menangis, karena akan selalu ada, selalu ada yang akan memainkan gitar dan bernyanyi lagu bahagia untukmu hingga kau tidak punya alasan lagi untuk meneteskan air matamu.

Kau akan seperti merasakan ada selubung yang menyelimuti hatimu, yang dengan alat setajam apapun tidak akan bisa merobeknya, tidak bisa melukainya, tidak bisa menghancurkannya. Karena kau percaya pada seseorang yang memberimu selubung itu. Kau begitu mempercayainya, karena kau menyayanginya. Tidak, bahkan karena kau menyadari betapa kau mencintainya.
Ya, hidup seindah itu, sayang ^_^

Tapi tidak ketika semuanya harus berakhir karena alasan bodoh. Ketika kau mulai menyadari bahwa mempercayainya adalah suatu kesalahan. Ketika kau juga harus dipaksa percaya, bahwa dia sebenarnya tidak seelok pandangan mata.
Aku tahu ini adalah bagian tersulit dari perjalanan ini.
Bisik-bisik orang lain, seolah meneriakkan bahwa kau begitu bodoh untuk mempercayainya, bahwa mempercayainya selama ini seperti usaha menangkap angin.
Sia-sia.

Apa kau tahu betapa sulitnya untuk membuka mata menghadapi kenyataan bahwa selama ini orang yang kau percayai, justru membohongimu? Betapa ia justru begitu hebat mengemas skenario cinta seperti itu. Di saat kau tidak ingin melihat ke belakang karena kau begitu percaya ia berada di belakangmu untuk melindungimu, ternyata kau salah. Ia berada di belakang, karena ia tahu kau tidak akan pernah melihat ke belakang untuk melihat dirinya yang sebenarnya seperti apa. Karena ia tahu, kau begitu percaya— hanya terlalu percaya..
Ya, kau, yang begitu bodoh, begitu mempercayainya.

Jadi bagaimana? Apa setelah kau tahu bahwa ia membohongimu, kau akan meninggalkannya? Melupakannya?
Seandainya saja semudah itu. Sendainya saja kau bisa melupakannya semudah ia menyakitimu. Aku pikir kau akan merasa lebih baik. Tapi aku tahu, tidak akan semudah itu.
Ketika semua orang mengusik alam pikirmu, mengatakan kau harus meninggalkannya, aku tahu kau sedang tidak mendengarkan mereka. Karena saat ini kau tidak sedang berpikir dengan otakmu. Kau sedang berpikir dengan hatimu.

Yang harus kau lakukan hanya terus berjalan. Kali ini pastikan kau akan terus melihat ke belakang. Yakinkan bahwa kau bisa berjalan sendiri. Yakinkan bahwa kau akan tetap waspada untuk menjaga hatimu sendiri. Walaupun aku tahu kau butuh dia, tapi untuk sekarang, teruslah berjalan tanpanya.

Karena ketika ia memang merasa benar-benar kehilangan seseorang yang seharusnya ia lindungi dan ia sayangi, ia pasti akan kembali. Ia akan kembali dengan hatinya, memastikan bahwa kau baik-baik saja.  Ia tak akan melakukan kesalahan yang sama, tidak akan menyakitimu lagi.

Hingga waktu itu tiba, kau tatap saja langit. Minta pada Tuhan agar hujan turun dengan membawa dua kemungkinan: membawa kembali kenangan atau menghapus jejaknya.

3 komentar: