Senin, 28 Oktober 2013

Kabar Baik Untukmu

Hei, sudah lama tidak melihatmu, sudah lama tidak mendengar kabarmu.

Sebentar.. Aku bahkan hampir lupa menanyakan kabarmu. Apa mungkin aku sudah lupa bagaimana cara me-na-nya-kan ka-bar?
Aku berharap ini pertanda baik. Pertanda baik bahwa aku sudah benar-benar bisa melepasmu, benar-benar bisa melupakanmu, benar-benar bisa menghapusmu dalam pikiranku.
Kalau ini memang benar, maka aku berharap kau membaca ini. Aku ingin memberimu kabar baik, bahwa aku sekarang sudah bisa beranjak dari kisah cinta kita dulu. Kisah cinta? Oke aku bahkan sedikit ragu untuk memberikan title “cinta” dalam kisah kita. Aku hanya ragu, bukan menyangkal. Karena pada hakikatnya kau sudah menyangkalnya terlebih dahulu. Jadi setidaknya aku tidak mau menjadi sepertimu.

Tenang saja, aku sudah melupakan rasa sakitku. Aku juga sudah melupakan kesalahan-kesalahan besarmu (yang kau anggap kecil) padaku. Tidak ada luka lagi, semuanya sudah pulih. Jadi jangan repot-repot meracik obat untuk alasan menyembuhkanku, yang mungkin akan kau berikan padaku beberapa waktu ke depan jika kau sedang kesepian. Karena sampai kapanpun, aku akan tetap baik-baik saja tanpamu.

Kau mau tahu keadaanku, tidak?
Aku sekarang sedang berjalan, berjalan menuju tempat terindah yang Tuhan pilih untukku, dan meninggalkan tanah yang salah, yang pernah kita pijaki bersama.
Aku juga sedang memikirkan asa dan mimpi baruku, dan melupakan pemikiran sia-sia tentangmu.
Aku juga ingin menulis cerita-cerita baru dalam hidupku, tanpa setetespun tinta pulpenku mencatatkan lagi hal-hal tentangmu. Bahkan aku sangat yakin, aku tidak akan menggunakan pen correction untuk menghapus cerita baruku lalu menuliskan namamu lagi.
Tidak akan lagi :’)

Apa menurutmu aku mudah mengatakan ini? Apa menurutmu ini adalah proses yang terjadi secepat mengedipkan mata? Tidak. Ada proses panjang yang sudah kulalui sebelum aku bisa mengungkapkan hal ini. Proses yang bagiku seperti menunggu sehelai rambut untuk tumbuh.

Tidak apa-apa. Proses adalah proses. Kebodohan ini sudah berhenti sampai di sini. Aku sudah memutuskan untuk menjadi lebih pintar lain kali.

By the way, aku lupa mengucapkan terima kasih.
Terima kasih sudah membuat aku belajar untuk tidak lagi mau berkisah dengan orang-orang sepertimu.
Terima kasih juga pernah hadir dalam hidupku. Biarkan saja ini cinta pura-pura, toh pada kenyataannya cinta adalah cinta. Aku pernah mencintaimu, dan meskipun itu adalah suatu kesalahan, tapi aku tidak ingin menyangkal bahwa itu pernah terjadi dalam hidupku.

Mari kita berjalan di arah yang berbeda. Temukan tempatmu, aku juga akan menemukan tempatku. Cocokkan jadwal terlebih dahulu, pastikan kita tidak akan berpapasan lagi. Aku takut akan menabrakmu dan tidak bisa membantu mengangkatmu jika kau terjatuh. Karena aku juga sedang terburu-buru. Buru-buru untuk menjauhimu, dan buru-buru untuk pergi dan tidak ingin menatapmu lagi.

Hei, aku harap kau akan baik-baik saja. Aku berdoa kau akan temukan yang terbaik dalam hidupmu.
Jangan lakukan kesalahan yang sama lagi ya. Ayolah, jangan bertindak bodoh lagi. Apa kau tidak berniat sama sekali untuk menciptakan kisah cinta yang berakhir bahagia? Well, silahkan memilih. Pilihan ada di tanganmu.

Hmm.. Sampai bertemu di akhir kisah kita masing-masing. Menyedihkan ataupun bahagia, akhir akan tetap menjadi akhir. Dan akhir itu adalah konsekuensi dari pilihan yang kita ambil.

Jadi, untuk terakhir kalinya aku ingin mengatakan ini padamu:
Selamat berpisah. Mari berjanji untuk sama-sama tidak melihat ke belakang lagi. 

5 komentar:

  1. sama-sama berterima kasih ga ada salahnya :D

    BalasHapus
  2. Hhmmm
    tpi kadang iri aku lo baca blogmu. Kapan ya aku bisa buat?? satu aja...
    Yahhh setidaknya gk kalah saing sama Cindy
    hahahah

    BalasHapus