Kamis, 17 Oktober 2013

Aku Ingin Berbicara tentang Rindu..

Kali ini aku akan menulis ini untukmu. Jadi, tolong dengarkan ini baik-baik.

Aku tahu saat ini kau sedang membaca serpihan kata-kata sederhana ini. Tapi aku tidak tahu saat membaca ini kau sedang berada di mana, sebelumnya sedang melakukan apa, dan aku juga tidak tahu untuk yang satu ini: tidak tahu kau sedang bersama siapa.

Ah, sudahlah. Aku sebelumnya sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk kali ini, aku tidak akan menuliskan hal-hal menyakitkan tentangmu. Jangan kau kira ini akan sulit bagiku untuk menuliskannya.
Tidak, sama sekali tidak. Karena sebenarnya, kenangan indah bersamamu jauh lebih banyak membekas di  alam pikirku dibandingkan hal-hal menyakitkan itu. Tidak sulit untuk menjelaskan betapa aku mengagumi dan mencintaimu--- dulu.

Hei, saat aku menulis ini, aku sedang mendengarkan sebuah lagu. Aku tahu, kau pasti langsung tahu lagu apa yang kumaksud. Lagu ini membawaku kembali pada sebuah dunia dimana aku mengenalmu.

"When my world is falling apart, when there’s no light to break up the dark.. That’s when I look at you.."

Lagu ini menendangku pada rindu yang telah begitu jauh kubuang. Percuma aku mempertahankan kedua kakiku, meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak akan berlari kembali menuju rindu itu. Percuma. Percuma, sayang. Aku tidak yakin aku benar-benar bisa melakukannya. Karena rindu itu juga menarikku mendekat, seperti magnet berkekuatan besar yang tidak akan bisa kulawan.

Lalu aku menyerah. Karena pada kenyataannya aku benar-benar merindukanmu.

Aku berpikir dengan memberitahumu tentang hal ini semuanya akan membaik. Tidak juga. Karena meskipun kau tahu, dan meskipun aku mengenal rindu ini dengan sangat baik, tidak akan terjadi apa-apa. Kau akan tetap di sana, membaca ini, dan aku juga tetap di sini, menuliskan ini. Tapi aku tidak ingin berhenti menyelesaikan tulisan ini. Sebab pengharapanku bahwa kau akan membaca ini, mendorong jemariku untuk terus melakukannya. Hanya agar kau tahu. Benar, hanya karena alasan sederhana itu.

Aku memberitahu ini tanpa membawa motif apapun. Sungguh, hanya agar kau tahu. Jadi tolong dengarkan saja, dan jangan ucapkan apapun. Jangan ucapkan apapun, atau aku mungkin akan semakin merindukanmu, mungkin akan kembali mencintaimu, mungkin terpenjara lagi dalam memori indah bersamamu, mungkin mungkin dan mungkin.

Ya, aku ingat sekali. Kau terlalu sering membawaku pada kemungkinan-kemungkinan yang bahkan terkadang aku tidak bisa memilih. Karena semua pilihanku pasti akan jatuh padamu. Aku tahu kau tahu itu. Kau tahu bahwa di saat aku diajak berkeliling dunia pun, aku hanya akan kembali pada satu titik. Dan itu dirimu.

Aku hanya sedang berpikir betapa aku beruntung pernah menjadi bagian penting dalam hidupmu. Seseorang yang selalu kau beritahu kemana kau akan pergi, seseorang yang menjadi tempatmu berbagi tawa dan air mata, seseorang yang selalu kau harapkan ada untukmu, tidak peduli sekuat apa dunia menghalangi. Se-spektakuler itukah? Ya, bagiku hal ini memang seluar biasa itu. Maaf jika berlebihan. Tapi bukankah jika tidak berlebihan, maka itu bukan cinta? :)

Kau tahu?
Rindu ini meninggalkan jejak pada setiap jalan yang pernah kulalui bersamamu, pada setiap tempat yang kudatangi bersamamu.
Rindu ini bahkan memenuhi sekitarku, berputar-putar di bawah kolong langit, seakan mengatakan padaku betapa pantangnya untuk melupakanmu.

Lalu, apa  aku harus mempertahankan rindu ini?
Kalaupun aku ingin, aku tidak bisa melakukannya. Karena semua yang terjadi, di luar kendaliku, sayang. Mempertahankan rindu ini justru akan menyakitiku. Atau mungkin bisa menyakitimu.
Namun aku juga tidak bisa segampang itu beranjak dari rindu ini. Tapi aku tidak menyerah untuk mencoba. Perlahan-lahan.. melepas. Aku tahu akan tiba waktunya di mana aku benar-benar lupa bagaimana cara merindukanmu.
Aku harap setelah aku menuliskan ini, rasa rindu ini berangsur-angsur berkurang. Aku juga berharap dengan mengatakan ini, rasa ini akan semakiiiinnn menghilang.

Aku akan mengatakan ini hanya sekali. Aku tidak akan mengulanginya. Jadi dengarkan baik-baik:
“Cukup aku saja yang merindukanmu. Tugasmu hanya tetap berdiri tanpaku.” 

5 komentar:

  1. Keren Cipta,,, ;) teruslah menulis ...

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. you're welcome,,, ;)) silahkan berkunjung juga, Cipta.. Hehehe sondroro.blogspot.com

      Hapus